• D89F8730
  • goldwinn88@gmail.com
  • +6281382786681
  • gold_win88

Manchester City Tersingkir, Pertanda Pep Guardiola Tak Lagi Spesial Di Liga Champions?

Tragis. Kelolosan Manchester City ke semi-final Liga Champions ternyata hanya terpisahkan jarak beberapa sentimeter.

Hat-trick Raheem Sterlin ke gawang Tottenham Hotspur di masa injury time sukses menghadirkan euforia luar biasa di Etihad Stadium, Kamis (18/4) dini hari WIB. Mendadak, gol itu dibatalkan oleh VAR. Sergio Aguero ternyata dalam posisi off-side yang sangat tipis sebelum memberikan umpan silang kepada Sterling.

Kemenangan dramatis seketika berbalik jadi kekalahan tragis. Skor agregat 4-4 memihak Spurs karena unggul agresivitas gol tandang. City lagi-lagi tersungkur di perempat-final dan ambisi meraih quadruple di musim ini ikutan menguap ke udara.

Ironis bagi Guardiola karena ia merupakan sosok yang vokal mendukung VAR. "Ini kejam, tapi beginilah adanya dan kami harus menerimanya," katanya kepada BBC.

Dengan demikian, untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, Pep Guardiola gagal membawa The Citizens melangkah ke empat besar Liga Champions. Padahal sebelumnya ia merupakan sosok spesialis semi-final di kompetisi elite Eropa itu.

Guardiola tercatat selalu berhasil mencapai minimal semi-final ketika melatih Barcelonadan Bayern Munich. Tujuh musim berada di semi-final -- dua di antaranya berakhir dengan juara -- tentu saja bukan prestasi sembarangan. 

Meski begitu, ia gagal mereplikasi prestasinya itu di Inggris. Pada musim pertamanya, City malah langsung tersisih di babak 16 besar oleh tim kejutan AS Monaco. Di musim berikutnya, Liverpool sukses menghentikan langkah Manchester Biru secara telak di perempat-final. Kini, giliran Tottenham yang jadi penghambat.

Bakal terasa tidak adil untuk langsung mengarahkan jari telunjuk kepada Guardiola dan menganggapnya tidak becus. Guardiola tetaplah salah satu pelatih top dengan sokongan sumber daya yang nyaris tak terbatas di City. Kali ini, keberuntungan sepertinya belum menaungi mereka. 

Kembali lebih kuat di musim depan, begitu pikir Guardiola. Tapi yang lebih penting, ia masih punya satu kesempatan untuk menebus kekecewaan, yakni membawa City merengkuh treble domestik di akhir musim.